RESET INDONESIA
Hai.. aku bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Seminggu ini, Indonesia seperti terbakar—ricuh, gaduh, penuh peristiwa yang mencekam rakyatnya. Pagi ini pun, di Palembang, aku melihat secara langsung mobil polisi yang habis dibakar semalam dan pagar gedung DPR yang sudah rusak. Semua bermula dari kabar tentang tunjangan DPR yang melonjak dua kali lipat. Bayangkan, seratus juta sebulan, tiga juta sehari.
Di tengah ekonomi yang membuat rakyat kecil berjuang sekadar untuk makan dan hidup layak, keputusan itu seolah menampar wajah bangsa. Sebenarnya, ini bukan sekadar soal gaji. Ini hanya puncak gunung es dari rasa sakit yang sudah terlalu lama ditahan: tanah nganggur dirampas negara, judol yang semakin diagung-agungkan, dan kebijakan-kebijakan lain yang tak berpihak.
Seandainya saat itu mereka memilih meminta maaf, barangkali bara tak akan sebesar ini. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: rakyat yang marah diejek, suara yang menuntut keadilan dicemooh. Kata-kata mereka kering, tanpa empati, bahkan melecehkan penderitaan.
Ada yang berdalih rumahnya jauh, macet terlalu panjang—padahal rakyat yang sama, tiap hari juga berdiri berdesakan di kereta, berpanas-panasan di jalanan, hanya dengan ongkos seadanya. Ada pula yang dengan enteng menyebut rakyat bodoh. Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pedang.
Awalnya demo berjalan seperti biasa, sampai polisi membuat ricuh dengan melempar gas air mata yang biasa mereka lakukan, dan puncaknya malam itu mereka melindas Ojol dengan menggunakan mobil brimob yang sudah tidak diperkirakan berat nya seberapa itu. Terlihat jelas di video, mereka sempat berhenti dan korban harusnya masih bisa diselamatkan, tapi justru mereka memilih untuk tetap berjalan dan melindas korban. Semua ini makin membuat rakyat marah dan murka. Semenjak hari itu, demo terlihat lebih ekstrim, banyak orang-orang picik yang ingin menunggangi momen ini dengan menjadi provokator untuk membuat demonstran terlihat buruk. Ada bisikan-bisikan jahat yang ingin mengulang luka ’98. Tapi saya yakin, indonesia 25 tidak sama lagi dengan indonesia 98. Kejadian itu tidak akan terulang. Rakyat indonesia sudah lebih pintar dan berbudidaya dari sebelumnya, Saya yakin itu.
Sampai detik ini, saat korban sudah mulai lebih dari satu, satu pun wakil rakyat, satu pun pejabat tinggi, tak ada yang benar-benar berdiri dan berkata: “Kami salah. Kami minta maaf.” Tidak. Mereka diam. Mereka lebih memilih untuk liburan ke luar negeri sampai semuanya reda. Jahat, seolah rakyat hanyalah suara bising yang mudah diredam.
Rakyat menuntut transparansi. Rakyat mendamba perubahan. Tapi hingga kini, tak ada jawaban. Aku pun tak tahu, siapa yang akan menyerah duluan: rakyat yang lelah atau penguasa yang bebal?
Ya Allah, berikanlah keadilan untuk rakyat negeri ini. Aamiin.
Di zaman seperti ini, mengapa Indonesia masih terperangkap di lubang yang sama? Sampai kapan semua ini akan berakhir? Apa yang harus dirombak habis-habisan agar bangsa ini benar-benar bisa berdiri tegak? Allahualam. Insyalllah secepatnya. Kun Fayakun.
31/08/2025
Komentar
Posting Komentar