cerita minggu lalu
Senin, 1 September 2025, adalah hari yang penuh ketegangan di Palembang. Titik kumpul demo berada tepat di depan gedung DPR, yang kebetulan sangat berdekatan dengan kantorku. Sayangnya, hari itu adalah hari off-ku, jadi aku tidak bisa menyaksikan langsung jalannya demo. Namun, kalau pun itu hari kerjaku, aku rasa mama tidak akan mengizinkanku pergi ke kantor.
Sehari sebelum demo, aku sudah melihat banyak mobil TNI besar yang seharusnya berada di barak, memasuki kota. Lampu-lampu jalan sudah banyak yang dimatikan, dan saat aku pulang, aku melihat banyak orang mengenakan baju loreng. Situasi ini sangat tidak mengenakkan, menandakan ada yang berbeda.
Sesua prediksi, demo di Palembang berjalan lancar dengan massa yang cukup banyak. Aku yakin keberhasilan ini juga karena mahasiswa yang bekerja sama dengan baik dan selalu mengingatkan sesama demonstran untuk tidak terprovokasi. Polisi pun tampaknya menyambut dengan sikap yang lebih terbuka, bahkan Ketua DPR keluar dan berjanji di atas Al-Qur’an untuk menyampaikan aspirasi rakyat ke Jakarta. Jika seperti ini, sudah jelas bahwa demo di Jakarta seharusnya tidak anarkis, selama ada satu saja anggota DPR atau pemerintah yang keluar untuk mendengarkan aspirasi demonstran. Sayangnya, alih-alih melakukan hal itu, mereka justru menghindar, yang hanya semakin memicu kemarahan rakyat.
Namun, beberapa hari sebelum demo besar di Palembang, aku sudah melihat aksi anarki yang dimulai oleh beberapa "demonstran" yang masih belia. Mereka merusak pos polisi, membakar mobil polisi, dan melakukan kerusakan lainnya. Meskipun banyak warga Palembang yang tidak setuju dengan tindakan tersebut karena dianggap anarkis, menurutku, polisi juga layak menerima perlakuan itu..
Komentar
Posting Komentar